Loka POM di Kab. Bone Hadiri Koordinasi Pengembangan Sapi Perah Terintegrasi, Dukung Penyediaan Susu Steril yang Aman untuk Program MBG

21-07-2026 Umum Dilihat 32 kali

Watampone – Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Kabupaten Bone menghadiri rapat koordinasi dan kunjungan lapangan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam rangka pembahasan desain perencanaan teknis detail (Detail Engineering Design/DED) kawasan perkandangan dan kandang sapi perah di Kec. Ponre, Kab. Bone pada Kamis (2/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penyediaan prasarana dan sarana pada Kegiatan Pengembangan Sapi Perah Terintegrasi yang memerlukan perencanaan teknis yang matang untuk mendukung keberhasilan program dengan produk akhir yaitu susu steril.

Hadir dalam kegiatan koordinasi diantaranya Kepala BBIB Singosari, Akbar Yasin, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus, Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional di Kementerian Pertanian RI, Nasrullah, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Epi Taufik, Profesional Agribisnis dan Peternakan, Dayu Ariasintawati, Kepala BBVet Maros, Direktur Polbangtan Gowa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Bone, Tim PJ Kegiatan Pengembangan Sapi Perah Terintegrasi di Kab. Bone  serta perwakilan dari BBPTU-HPT Baturraden, BBVET Maros, Sekretariat Ditjen Peternakan dan Kesehatan hewan, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, serta PFM Ahli Pertama Loka POM di Kab. Bone, Aisyah Amini Anshari.

Program pengembangan sapi perah ini dirancang untuk menghasilkan susu steril sebagai salah satu komoditas yang akan mendukung pemenuhan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam proses hilirisasi tersebut, hasil produksi susu steril merupakan pangan olahan yang berada dalam ruang lingkup pengawasan BPOM, mulai dari pemenuhan standar keamanan, mutu, dan gizi hingga proses perizinan sebelum produk dapat diedarkan kepada masyarakat. 

Kehadiran BPOM pada tahap perencanaan menjadi wujud sinergi lintas sektor dalam memastikan aspek keamanan pangan telah dipertimbangkan sejak awal pembangunan fasilitas produksi. Melalui koordinasi ini, diharapkan desain kawasan dan fasilitas yang dibangun mampu mendukung penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) sehingga menghasilkan produk susu yang aman, bermutu, dan layak dikonsumsi.

PFM Ahli Muda, Sabaruddin, menyampaikan bahwa keterlibatan BPOM sejak tahap perencanaan merupakan langkah strategis untuk memastikan fasilitas yang akan dibangun dapat memenuhi persyaratan pengolahan pangan olahan. "BPOM mendukung pengembangan industri susu steril yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan gizi. Melalui koordinasi sejak tahap perencanaan, kami berharap seluruh aspek yang menjadi persyaratan pengawasan pangan olahan dapat diakomodasi sehingga produk yang dihasilkan aman dikonsumsi dan siap mendukung pemenuhan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis," ujar Sabar.

Melalui kolaborasi antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan BPOM, diharapkan pengembangan kawasan sapi perah terintegrasi dapat menghasilkan produk susu steril yang memenuhi standar regulasi dan berkualitas. Selain untuk mendukung pemenuhan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), produk susu steril yang dihasilkan dari pengembangan kawasan sapi perah terintegrasi juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara lebih luas. Dengan tersedianya produk susu yang aman, bermutu, dan bergizi, masyarakat dari berbagai kelompok usia dapat memperoleh akses terhadap pangan olahan yang berkualitas, sehingga turut mendukung upaya peningkatan status gizi, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (KN)

 

Sarana